• Oligo-Admin

Perbedaan RDF dan SRF

Diperbarui: Jul 1

Oleh Geert Cuperus | 26 Mei 2015

(Sumber :https://resource.co/article/difference-between-rdf-and-srf-10156)


Catatan:

Artikel ini merupakan artikel dari “resource.co” yang diunggah ulang dan diterjemahkan oleh Oligo. Pengunggahan artikel ini telah mendapatkan izin dari Geert Cuperut sebagai penulis artikel orisinil ini untuk diunggah di website Oligo.


Dengan melonjaknya insinerator, Geert Cuperus dari European Recovered Fuel Organisation (ERFO) menguraikan perbedaan antara SRF dan RDF serta perlunya standarisasi.


Sejak awal tahun 90-an, produksi bahan bakar berbasis sampah untuk pemulihan energi telah menjadi pilihan pengelolaan sampah yang populer. Banyak bagian dari sampah yang tidak dapat digunakan kembali atau didaur ulang dengan mudah dikarenakan sampah tersebut mengandung material yang sulit untuk disortir atau dipisahkan dengan baik, namun memiliki nilai kalor tinggi yang dapat digunakan pada bahan bakar untuk pemulihan energi.


Akan tetapi, pilihan ini hanya dapat dijalankan jika terdapat pasar yang berfungsi dengan baik. Sehingga, diperlukan adanya perusahaan-perusahaan persampahan untuk memproduksi bahan bakar berbasis sampah yang memenuhi persyaratan-persyaratan dari klien (misalnya perusahaan yang mengoperasikan fasilitas pembakaran). Meskipun untuk melakukan ini, perusahaan-perusahaan tersebut memerlukan penyetaraan persepsi dengan suatu istilah yang umum.


Isu ini dipersulit dengan adanya fakta bahwa, dalam praktik sehari-hari, banyak sampah mengandung kalori yang dianggap sebagai refuse-derived fuel (RDF). Namun karena tidak ada definisi resmi dari RDF, kandungan dan kualitas dari RDF dapat menjadi bervariasi. Kerap kali kualitas komposisi dan parameter lingkungan tidak dijelaskan dengan baik. Hal ini dapat menimbulkan risiko bagi produsen dan pengguna dari bahan bakar tersebut karena kesehatan manusia dan peralatan-peralatan menjadi terganggu akibat senyawa tertentu pada bahan bakar yang mungkin berbahaya. Karena adanya dampak lingkungan yang tidak dapat dikontrol, pada umumnya penerimaan masyarakat dan penerimaan oleh pihak berwenang yang kompeten menjadi rendah.


Sementara untuk RDF, bagaimanapun bentukan-nya, walaupun memiliki nilai kalori yang baik dan kandungan klorin yang rendah, klien tidak dapat yakin akan komposisinya. Hal ini dikarenakan RDF tidak diuji dan dievaluasi dengan menggunakan cara yang tepat dan terstandarisasi.


Untuk membuat penanganan bahan bakar turunan sampah menjadi lebih mudah, sebuah istilah umum untuk menyetarakan persepsi telah dibuat dan tertuang dalam Standar Eropa CEN/TC 343 untuk ‘solid recovered fuel’ (SRF).


SRF merupakan bahan bakar yang diproduksi dari sampah non-B3 yang sesuai dengan standar Eropa EN 15359. Walaupun standar ini bukan merupakan kewajiban, persyaratan utamanya adalah produsen untuk melakukan spesifikasi dan klasifikasi terhadap SRF-nya dengan merincikan nilai kalor bersihnya, dan kandungan klorin serta merkuri dari bahan bakar tersebut. Spesifikasi (yang bersifat wajib) meliputi beberapa karakteristik lain, seperti kandungan seluruh logam berat yang disebutkan dalam Petunjuk Emisi Industri (Industrial Emissions Directive). Lebih lanjut, sebuah pernyataan kesesuaian harus diterbitkan oleh produsen.


Walaupun standar ini menunjukkan bahwa terdapat kesepakatan terhadap definisi SRF, perlu untuk diperhatikan bahwa EN15359 dan standar yang mendasarinya tidak memerlukan tingkat kualitas tertentu. Oleh karena itu, kualitas SRF yang diperlukan pada akhirnya ditentukan oleh klien yang bersangkutan, sehingga kualitas SRF dapat menjadi bervariasi.


SRF akan menjadi pilihan bahan bakar yang penting untuk masa depan, namun banyak hal yang perlu dilakukan agar dapat menjamin SRF sebagai bahan bakar berbasis sampah dengan kualitas yang dapat menciptakan rasa percaya dan penerimaan pada pasar.


Temukan lebih banyak tentang spesifikasi untuk SRF melalui website ERFO.


ERFO merupakan asosiasi non-profit, berdiri pada tahun 2001 oleh perusahaan Eropa yang memproduksi SRF. ERFO bertujuan untuk mempromosikan penggunaan bahan bakar terpulihkan yang disiapkan dari limbah non-B3 dan untuk membuatnya dapat diterima secara sosial dan politis dan layak secara teknis.